Buku Sebagai Mercusuar Peradaban

Buku Sebagai Mercusuar Peradaban

Buku Sebagai Mercusuar Peradaban: Hari Buku Nasional yang diperingati setiap tanggal 17 Mei ini, setidaknya bisa menjadi momentum bagi masyarakat Indonesia untuk membangkitkan kembali kesadaran akan komitmen menjadikan buku sebagai menu prioritas agar menjadi kebiasaan dalam membaca dan menulis.


Sejarah mencatat, kemashuran Yunani dengan segala bentuk peradaban ilmu pengetahuannya tidak pernah lepas dari buku. Para pemikir Yunani klasik menuliskan buah pikirannya kedalam bentuk buku yang kemudian dibaca oleh masyarakat sehingga mendapatkan banyak pencerahan. Konfusius mengibaratkan buku seperti gudang yang penuh dengan emas. Ada banyak pengetahuan yang tidak akan pernah habis walau semua manusia membacanya.

Menumbuhkan tradisi membaca di kalangan masyarakat Indonesia, terutama para pelajar melalui Peraturan Kementerian Pendidikan dan Kebudayan (Permendikbud) No. 21/2015 tentang kewajiban membaca selama 15 menit, tentunya patut kita apresiasi. Peraturan membaca selama 15 menit ini merupakan gembaran baru dari pemerintah untuk membentuk tatanan masyarakat yang melek buku, kutu buku dan masyarakat yang berperadaban.

Menumbuhkan minat untuk membaca di kalangan masyarakat ini tentu saja patutu kita sambut dengan baik dan kita respon dengan proses yang baik pula termasuk juga dalam pemilihan buku. Saat ini, banyak sekali penerbit yang mencetak buku dengan tidak memperhatikan isi atau kualitas bukunya. Mereka hanya menuruti permintaan pasar dengan pemolesan judul, design cover yang menarik, dan sinopsis yang menggebu-gebu tapi berisi sampah.

Patut kita sadari bahwa tidak semua buku bisa mencerdaskan umat manusia. ada juga buku yang justru bisa menghasut dan menyesatkan pola pikir manusia. Misalnya buku yang ditulis dengan comot sana comot sini pemikiran atau buku orang lain. Padahal, penulisan buku tidak bisa seperti itu. buku merupakan hasil permenungan, penelitian dan pembacaan yang dalam terdahap pemikiran dan realitas yang akan ditulis. Sehingga dengan demikian akan menghasilakan buku yang benar-benar mempunyai kualitas tinggi.

Para filosof masa Yunani kuno seperti Aristotels, Plato, Socrates, Cicero, Homer dan yang lainnya dalamtradisi menulis, mereka selalu berkontemplasi diri, menempa pengetahuan hingga tajam dan kemudian baru menuliskannya. Apa yang mereka tulis, tentu saja dapat dipertanggung jawabkan. Berkat buah karya mereka itulah, sampai saat ini masyaraat dunia masih bisa menemukan karyanya.

Pada abad ke-VII, Islam yang berpusat di Jazirah Arab menjadi gudang ilmu pengetahuan. Dinasti Abasiyah dan kerajaan Andalusia adalah menjadi pusat peradaban buku. Bahkan bisa dikatakan, tidak ada yang lebih berharga selain buku. Perlu dicatat bahwa perkembangan ilmu pengetahuan masyarakat Islam tersebut tidak lepas dari upaya masyarakat Islam Arab yang belajar ke Yunani.

Kita bisa membaca kemegahan puluhan perpustakaan di Baghdad lengkap dengan buku-buku Yunani yang sudah diterjemahkan. Bahkan Arab yang ada mulanya menganut tradisi jahiliayah, dengan hadirnya berbagai pusat ilmu pengetahuan, mereka berubah menjadi bangsa yang beperadaban tinggi. Singkatnya, dataran padang pasir Jazirah Arab pada waktu itu menjadi pusat ilmu pengetahuan dunia.

Benar apa kata Milan Kundera, jika ingin menghancurkan sebuah bangsa dan peradaban, hancurkan buku-bukunya; maka pastilah bangsa akan musnah. Peradaban ilmu pengetahuan Arab, musnah ketika tentara Mongol merampas dan membakar seluruh buku-buku yang ada diperpustakaan.

Pasukan Mongol Baghdad mulai memasuki kota pada tanggal 13 Februari. Tak ayal lagi kebiadaan segera meledak. Pembantaian, penjarahan, pemerkosaan, dan pembakaran terjadi di mana-mana. Bala tentara Mongol itu menjarah dan menghancurkan masjid, perpustakaan, istana, rumah sakit, dan juga banyak bangunan bersejarah. Perpustakaan di kota Baghdad pun dihancurkan. Ribuan koleksi buku dibuang ke Sungai Tigris hingga warna air sungai itu berubah seperti warna tinta.

Terlepas dari hal itu, kita sebagai bangsa Iindonesia seharusnya bisa megambil etos dan spirit masyarakat Islam era keemasan itu. Membangkitkan kesadaran akan pentingnya kelimuan melalui membaca dan menulis, tidak hanya berhenti di meja-meja lembaga pendidikan akan tetapi berjalan secara kontinyu tanpa harus di dalam lembaga pendidikan.

Sebagaimana hadis yang hampir dihafal oleh setiap muslim, “tuntutlah ilmu dari buaian hingga liang lahat,” “bertafakur sejenak lebih baik dari pada ibadah setahun,” atau “ilmuan saleh lebih mulia ketimbang tukang ibadah yang bodoh,” merupakan spirit-apirit yang diwariskan oleh nabi Muhammad untuk uamt manusia. Selian itu, kita juga tidak boleh melupakan wahyu pertama yang diturunkan oleh Allah kepada Muhammad yang berupa seruan untuk membaca. dan, etos “iqra`” itu pula sesungguhnya penopang utama warna gemerlap peradaban Islam masa lalu.

Jika para ilmuwan dahulu berhasil mentrasfomasikan etos yang diwariskan oleh Qur`an itu dengan malakukan olah intelektual tak kenal henti, sekarang justru malah sebaliknya. Jika masa lalu umat Islam mampu menterjemahkan beragam khazahan Yunani dan Persia, tradisi itu kini lenyap secara perlahan.

Memeringati Hari Buku Nasional ini, setidaknya kita masyarakat indonesia harus bisa mengambil spirit dan etos dari penggalan-penggalan sejarah kejayaan ilmu pengetahuan masa lalu dan kemudian kita transformasikan dalam kehidupan saat ini. Dengan buku-buku yang berkualitas tinggi, kita akan mampu membentuk tatanan masyarakat yang melek dengan pengetahuan dan mampu mengikuti perkembangan aman. Buku adalah mercusuar peradaban, barang siapa yang membacanya, ia akan mengetahui apa-apa yang tidak ia ketahui.[Cho/Ntz]

Buku Sebagai Mercusuar Peradaban
4/ 5
Oleh
Load comments