Tampilkan postingan dengan label kolom. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kolom. Tampilkan semua postingan
Beragama dan Berpancasila

Beragama dan Berpancasila

Keberagaman keagamaan  di Indoensia sebagai bentuk pluralitas, kian terusik ketika banyak kelompok radikal ekstrimis yang mengekspresikan keyakinanya secara berlebihan. Mengkafirkan kelompok lain dan mengunggulkan kelompoknya sendiri. Konflik keyakinan antar kelompok adalah konsekuensi logisnya. Perpecahan sudah pasti terjadi.

Ditambah lagi dengan ulah para teroris semakin hari kian mengusik ketentraman masyarakat Indonesia.  Terorisme dengan dalih jihad menegakkan agama Allah (Islam) justru mengkerdilkan Islam. Islam sebagai agama perdamaan, sekarang banyak diinterpretasikan sebagai hantu sosial.

Indoensia sebagai negara  demokrasi yang menjamin dan menjaga adanya pluralitas, semua masyarakat sudah pasti mempunyai hak untuk mengekspresikan keyakinanya masing-masing. Akan tetapi ekspresi keyakinan tersebut harus disertai dengan kesadaran adanya perbedaan. Kesadaran inilah yang kemudian bisa membentuk harmoni antar umat manusia.

namun, realitasnya jutsru barbanding terbaik. Banyak dari kelompok masyarakat yang mengekspresikan keyakinanya diruang publik, tapi tidak menerima adanya perbedaan dengan keyakinan lain. Jika semua  kelom pokaliran semacam ini, maka pluralitas dan kerukunan yang sudah lama terbangun, akan runtuh dengan seketika. Terlebih saat ini banyak aliran-aliran maupun sekte-sekte yang  terus bersaing. Ini menjadi momok menakutkan tersendiri jika kita tidak mampu menerima perbedaan secara sportif.

menurut pakar sosiologi politik, Noorhaidi Hasan (2012) perlu adanya manageman of religiusmen untuk mengelola keberagaaman keagamaan yang ada di Indoensia. Meskipun di Indonesia dikenal sebagai negara plural, akan tetapi pluralitas itu akan tenggelam jika tidak di-manage dengan baik. kesalahan kita saat ini adalah karena kurangnya manage keyakinan dari berbagai aliran yang kemudian tidak bisa menerima perbedaan keyakinan lainnya.

Jika masing-masing kelompok aliran itu mempunyai manageman of religiusman yang baik, maka tidak akan ada yang namanya pengkafiran, penistaan agama ataupun pelabelan kelompok sesat. Semua klaim-klaim itu muncul adalah kerena kita sebagai bangsa yang plural, masih mengunggulkan identitas masing-masing. Padahal di negara yang plural seperti indonesia ini, perbedaan identitas justru diakui tanpa harus mengunggulkannya.

Alwi Shihab mengatakan bahwa prinsip lain yang digariskan oleh Al-Qur`an adalah pengakuan eksistensi orang-orang yang berbuat baik dan setiap komunitas beragama (berkeyakinan) dan dengan begitu, layak memperoleh pahala dari Tuhan.  Pluralisme, lanjut Alwi, tidak semata menunjukkan pada keyataan tentang adanya kemajemukan. Namun yang dimaksud adalah keterlibatan aktif terhadap kenyataan kemajemukan tersebut.

Jadi yang menjadi patokan sebenarnya bukan pada perbedaan keyakinan yang kemudian menimbulkan konflik, akan tetapi bagaimana kita bisa menerima perbedaan keyakinan itu dan bisa terlibat aktif dalam perbedaan tersebut.

Berpancasila


Hidup di Indonesia harus menghargai adanya pluralitas sebab pluralitas adalah suatu implikasi dari sikap toleran dan kesediaan untuk menerima dengan biak kenyataan beneragaman. Sikap yang mengnggulkan keyakinan sendiri adalah sama dengan masyarakat jahiliah. Karakter masyarakat jahiliyah tidak bisa menerima perbedaan bagai manapun bentuknya. Perang menjadi solusi masyarakat jahiliah ketika ada kelompok yang bertentangan dengan keyakinanya. Hal ini sangat tidak relevan dengan Indonesia.

Bercermin pada para founding father, sebenarnya bangsa Indonesia sudah ditunjukkan jalan bagaimana merawat dan menjaga kemajmukan tersebut. Melalu iperdebatan panjang, Pancasila lahir sebagai ideologi negara, adalah kunci untuk menjaga kemajemukan tersebut. Pancasila mempunyai nilai-nilai dasar yang dapat kita aktualisasikan untuk menjaga kerukunan dan perdamaian.

Pancasila juga merupakan suatu dasar negara yang mengusung pluralitas. Indonesia yang terdiri dari 223 suku, 6 agama dan berbagai bahasa daerah yang disatukan oleh bahasa Indonesia, tentunya memerlukan pemersatu dari berbagai perbedaan yang ada. Dan pemersatu itu hanya ada dalam pancasila sebagai ideologi negara.

Selama ini, pancasila hanya dijadikan bahan diskusi panjang dari mulut ke mulut tanpa ada aplikasi riilnya. Banyak orang yang mengerti bunyi pancasila, akan tetapi tidak bisa mengaktualisasikan butir-butir pancasila tersebut dalam bermasyarakat. Seharusnya tidak ada yang namanya penistaan agama ataupun konflik keyakinan jika kita bisa mengaktualisasikan nilai-nilai pancasila tersebut.

Bahkan bung karnoe mengatakan bahwa pancasila sebagai ideologinegara tidak saja sebagai catatan kosong, akan tetapi merupakan “butiran emas”  untuk menuju kehidupan bersama yang menghormati, mengjargai danmemberi tempat bagi nilai-nilai plural bangsa. Sadar atau tidak,hanya pancasila yang mampu menjamin adanya kemajemukan di Indonesia. Itu sebabnya mengapa dalam berbangsa kita tidak boleh melupakan nilai-nilai pancasila.

Dalam sila pertama misalnya, ‘ketuhanan yang maha esa’, masyarakat Indonesia berhak memilih agama manamun adan keyakinan apapun.  Negara tidak pernah mematok agar masyarakat Indonesia hanya beragama Islam. Yang terpenting adalah bagaimana kita bisa menghormati agama-agama maupun keyakinan diluar diri kita masing-masing. Hal itu dipertegas dengan sila ke-dua yang menyebutkan bahwa kemanusiaan yang adil dan beradab.

Dari sekian banyaknya aliran dengan gerakannya yang kian masif dan terus bermunculan di Indonesial, yang perlu kita lakukan adalah memegang teguh nilai-nilai pancasila. Menurut Budhy Munawar Rachman, dalam negara yang majemuk, Identitas tidak perlu menimbuklan konflik,sebab dalam pluralisme, identitas justru diakui. Bahkan dalam politik multikulturalisme,  pemerintah justru harus melindungi dan membantu kelompok minoritas.

Terakhir, untuk itu kita harus kembali pada nilai-nilai pancasila yang mengusung pengakuan adanya perbedaan, saling menghormati dan mengargai. Dengan demikian, tidak ada yang namanya konflik antara kelompok, suku, ras keyakinan ataupun yang lainnya. [Nur Kholis Anwar]
Tugu Tani Direnovasi, Lahan Pertanian Dikebiri

Tugu Tani Direnovasi, Lahan Pertanian Dikebiri

Pati, Netizenia.com- siapa yang tidak mengenal “Pati Bumi Mina Tani’? sebuah tulisan yang mengandung makna sangat dalam.  Untuk mendukung tulisan atau jargon tersebut, bahkan ada banyak juga patung tuigu tani di Kabupaten Pati, atau yang dikenal dengan Tugu tani. Patung-patung tersebut juga mencerminkan ikhwal melimpahnya produk pertanian di Kabupaten Pati ini.

Untuk mempercantik wajah kota pati, patung tugu tani pun banyak yang direnovasi. Ada yang ditambahi dengan air mancur, lampu hias dan lain sebagainya. Semuanya Nampak lebih menarik dan cantik.  Bagi masyarakat yang lewat atau melihat patung tugu tani, tentu saja mereka akan terpesona dan tiba-tiba ingin selfy.

Berbarengan dengan adanya renovasi tugu tani tersebut, nampaknya pemerintah Kabupaten pati juga mengebiri lahan-lahan pertanian yang ada di Pati ini. Hal itu sangat jelas ketika  pemerintah memberikan izin pendirian pabrik semen di kawasan pegunungan Kendeng Utara yang dapat mematikan produktivitas pertanian.

Bahkan upaya untuk  mengizinkan pendirian pabrik semen itu terkesan dipaksakan. Meskipun masyarakat sudah menolak, tetapi pemerintah bersikukuh untuk memberikan izin.  Hal ini tentu saja sangat tidak sejalan dengan slogan Pati Bumi mina Tani tersebut.

Padahal, lahan pertanian adalah sangat penting untuk kebutuhan hidup masyarakat desa. Bahkan lahan pertanian menjadi tumpuan utama masyarakat desa untuk bertahan hidup. Pun demikian, mereka tetap tenang, aman dan nyaman. Semua kebutuhan tercukupi, masyarakat saling gotong royong, minim konflik dan solidaritas terpupuk dengan sangat kuat.

Keadaan seperti ini tentu saja patutu dipertahankan, pemerintah jangan hanya mengejar keuntungan semata, tetapi juga harus memperhatikan dampaknya juga. Apabila gunung dihancurkan, lahan pertanian dirubah menjadi perindustrian,  hutan berubah menjadi hamparan pertambangan, dan jalanan penuh dengan debu yang beterbangan, pada saat itulah kehancuran tampak nyata.

Pemerintah nampaknya menutup mata dengan adanya fakta bahwa masyarakat sudah menolak dengan adanya pembangunan pabrik semen di pati. Pemerintah justru malah melawan masyarakat.  Padahal, pemerintah itu tugasnya melayani, bukan bertindak semaunya sendiri. [Ntz]
Kejahatan dan Nafsu Kebinatangan

Kejahatan dan Nafsu Kebinatangan

Apabila kita amati, kejahatan terjadi adalah karena diri manusia sudah diliputi dengan nafsu kebinatangan. Sementara nafsu kebinatangan tidak mengenal mana yang salah dan mana yang benar. Semua yang dilakukan, dianggapnya sebagai suatu hal yang benar dan wajar. Pendek kata, semakin besar nafsu kebinatangan dalam diri manusia, maka semakin besar pula hasrat untuk melakukan ketidakbenaran.

Pada dasarnya, nurani manusia menolak dengan tegas ketika dirinya melakukan kejahatan. Sebab, karakter nurani manusia tidak akan bisa untuk melakukan kejahatan. Ia diciptakan oleh Tuhan untuk menebar benih-benih kebaikan, membela sesama, berperilaku sosial dan melawan kemungkaran.

Orang yang tidak bisa mengambil jarak dengan hal-hal yang berbau kejahatan, perlahan ia akan masuk kedalam kubang kejahatan tersebut. Sebab kejahatan adalah bola salju yang terus menggelinding dan akan semakin membesar. Kenyatannya, orang lebih mudah untuk melakukan hal-hal yang berbau kejahatan dari pada hal-hal yang mengarah pada kebaikan, meskipun itu dalam skala kecil.

Apa yang terjadi pada Yuyun secara tidak langsung telah menampar muka para remaja bangsa Indonesia. Hal itu juga menandakan bahwa kejahatan sudah membabi-buta dan  tidak mengenal usia. Siapa saja bisa melakukannya, tetapi tidak semua orang bisa mengendalikannya.  Yuyun diperkosa 14 orang remaja yang rata-rata berusia 16 dan 19 tahun. Remaja labil yang seharusnya berada di bangku sekolah dan menempa ilmu pengetahuan tetapi malah melakukan aksi kejahatan.

Dari peristiwa tersebut, pertanyaan yang sangat menggelitik adalah kenapa orang lebih mudah untuk melakukan kejahatan dari pada kebaikan? Semakin banyak aksi kejahatan yang terjadi dan ditangani oleh pihak yang berwajib, tetapi tidak mebuat para pelaku kejahatan semakin berkurang, tetapi malah semakin bertambah. Kejahatan tidak saja dilakukan oleh orang dewasa, tetapi anak-anak dan remaja.

Kita juga tahu bahwa setiap tahun aparat kepolisian menambah personil untuk menjamin keamanan dan kenyamanan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Bersamaan dengan itu, aksi kejahatan juga semakin mewabah dan semakin tak terkendalikan. Buktinya, setiap hari, baik di televisi maupun di media sosial selalu saja ada berita kejahatan yang terjadi dimana-mana.

Mungkin ini yang dikatakan Hannah Arendt sebagai banalitas kejahatan (the banality of evil), yaitu suatu kondisi di mana kejahatan terjadi pada skala massif, dipraktekkan sebagai sesuatu yang otomatis, spontan, dan hampir sama sekali tidak melibatkan rasa bersalah. Kejahatan bukan hanya sekedar masalah moralitas, tetapi juga masalah absennya kemampuan berpikir rasional, kritis, dan berlandaskan hati-nurani sebelum bertindak atas nama orang banyak.

Masih Adakah Kebenaran?


Sering kali kita melihat realitas kejahatan yang diekspos secara vulgar diberbagai media sosial hingga menimbulkan reaksi masyarakat. Disamping itu, kita juga melihat, kejahatan yang sempurna (perfect crime) benar-benar ada. Pertanyaannya, ketika kejahatan semakin membabi buta, masih adalah kebenaran?

Satu hal dalam diri manusia yang tidak bisa bertindak jahat adalah hati nurani. Setiap manusia mempunyai hati nurani. Setiap manusia juga mampunyai nafsu. Kekuatan antara hati nurani dan nafsu ini adalah sama-sama besar. Kita sebagai manusia harus pintar-pintar mengendalikannya. Yang jelas, dorongan nafsu lebih kuat dari pada dorongan hati nurani. Pengelolaan dianara keduannya inilah yang perlu kita pelajari.

Orang yang dirinya dikuasai oleh nafsu, meskipun ia telah melakukan kejahatan tetapi dianggapnya sebagai hal biasa. Nafsu telah membutakan segalanya sehingga apapun yang dilakukan cenderung mengarah pada kejelekan. Dalam pandangan Jalaluddin Rumi, orang yang dirinya dikuasai oleh nafsu tidak akan pernah merasakan bagaimana nikmatnya meminum anggur dengan rasa cinta. Ia hanya akan merasakan kehampaan dan kebingungan-kebingungan.

Lain halnya dengan orang yang laku hidupnya bisa mengoptimalkan hati nuraninya, ia akan lebih mudah untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Ia juga lebih mudah untuk melakukan hal-hal yang benar.  Rumi melanjutkan, orang yang hatinya dipenuhi dengan nurani, ia akan merasakan nikmatnya meminum anggur dengan rasa cinta dan ditemani dengan Empunya cinta.

Peristiwa pemerkosaan dan pembunuhan terhadap Yuyun dan kasus kejahatan lainnya secara langsung menunjukkan pada kita bahwa kejahatan terjadi karena diri manusia diliputi dengan nafsu kebinatangan. Akhirnya, hal-hal yang berbau kejahatan harus dihanguskan agar kejadian seperti yang dialami Yuyun tidak terulang kembali. Masyarakat harus bekerja sama dengan aparat kepolisian untuk menumpas berbagai tindak kejahatan. Dengan demikian, harapan masyarakat untuk merasa aman, nyaman dan damai akan terwujud. [Ntz]
Inilah Kehawatiran Barat Terhadap Umat Islam

Inilah Kehawatiran Barat Terhadap Umat Islam

Dari tahun ke tahun, jumlah pemeluk agama Islam semakin bertambah. Pertambahan ini tidak hanya ada di dataran Asia atau di Timur Tengah, tetapi justru berada di kawasan Barat. Di Amerika pasca tragedi WTC yang menewaskan banyak warganya, justru pertumbuhan umat Islam di Amerika semakin bertambah pesat. Padahal, pasca tragedi tersebut umat Islam menjadi buronan Amerika yang dicurigai sebagai pelaku teror WTC, terutama Jaringan Islam al-Qaida.


Namun, fakyanta tidaklah demikian, ruang gerak umat Islam di negara yang mayoritas nonmuslim justru semakin luas. Berdasarkan penelitisn yang dilakukan oleh Pew Forum on Religion and Public Life tercatat bahwa tingkat pertumbuhan umat Islam dunia padi tahun ketahun mencapai 1,5 persen. Sedangkan peningkatan untuk menduduk nonmuslim hanya 0,7 persen.  Para peneliti juga memprediksi bahwa pada tahun 2030, umat Islam sedunia akan mengalami kenaikan hingga 26,4 persen.


Melihat data perkembangan populasi umat Islam dibelahan dunia tersebut, tentunya menjadi satu hal yang istimewa bagi umat Islam sendiri. Disatu sisi juga dapat menjadi momok menakutkan bagi negara-negara nonmuslim. Sebab, sudah banyak orang nonmuslim yang beralih agama menjadi Islam. Misalnya saja di Amerika Serikat yang merupakan negara adidaya, pada tahun 2010 yang lalu, jumlah penduduk muslim di Amerika mencapai 2,6 juta jiwa. Sedangkan pada tahun 2015, jumlah penduduk muslim di Amerika mencapai 77 persen.


Jumlah populasi penduduk muslim tersebut sangat fantastis. Hal ini akan berkembang seiring dengan perputaran waktu. Jumlah 77 persen tersebut sebagian besar merupakan orang-orang kristen yang meningalkan agamanya dan kemudian masuk Islam. Adapun sebagian yang lain adalah orang Islam yang migasi ke Amerika. Data statistik penelitian pada tahun 2007 dan 2014 menunjukkan bahwa  terjadi penurunan jumlah pemeluk agama kristen hingga sebanyak 8 persen, yang pada tahun 2007 sebanyak 78 persen, pada tahun 2014 menjadi 70,6 persen.


Hal itu akan semakin bertambah apabila digabungkan dengan perkembangan umat Islam diwilayah  Eropa yang juga mempunyai populasi muslim sangat banyak. Sebuah tanda bahwa umat Islam mulai mengalami kebangkitan setelah sekian lama mengalami kemunduran. Lambat laun, jumlah umat Islam di dunia akan semakin banyak dan Islam menjadi agama mayoritas di berbagai negara. Vatikan yang merupakan negara kristen, saat ini juga sudah mulai bermunculan jamaah muslim. Meskipun jumlahnya masih sedikit, tetapi lambat laun akan mengalami pertumbuhan pesat.


Perluditehui pula bahwa pesatnya pertumbuhan umat muslim di Barat merupakan sebuah momok yang menakutkan bagi bangsa Barat sendiri. Sebagaimana yang dijelaskan dalam bukunya Dr. Edward J. Byng yang berjudul ‘De Derde Macht` (1954) mengungkapkan bahwasannya akan ada masa dimana umat Islam mengalami kebangkitan secara signifikan yang menyebar diberbagai belahan dunia. Bahkan secara jelas, DR. Edwad menuliskan sebanyak 400 juta umat Islam yang menyebar dari bagian barat Afrika hingga hingga Asia Tengah.


Pada tahun 1959, buku ini sempat populer lantaran prediksi Dr. Edward tentang kebangkitan umat Islam tersebut mulai terbukti. Namun, banyak kalangan nonmuslim Afrika tidak mempercayai prediksi Dr. Edward tersebut. barulah pada tahun 2010 kemarin, bangsa Afrika benar-benar percaya akan prediksi DR. Edwad tersebut. pada tahun 2010 lalu, jumlah pendudik muslim di Afrika sudah mencapai hampir 200 juta jiwa yang sudah tersebar di Benua Afrika.


Terlebih Dr. Edwad dalam bukunya tersebut menambahkan bahwa akan adanya persatuan umat muslim seluruh dunia untuk membentuk kekuatan ketiga. Kekuatan ketiga ini tidakakan dapat dikalahkan oleh siapapun. Dengan munculnya kekuatan ini, orang-orang nonmuslim dengan sendirinya akan ikut bergabung menjadi muslim. Kekuatan ketiga iniseakan menjadi magnit tersendiri bagi masyarakat nonmuslim.


Selain itu, adanya pertemuan khusus 24 organisasi Islam Chicago yang membahas tentang strategi untuk mengislamkan negara Amerika, juga mendapatkan perhatian serius. Hasil pertemuan itu kemudian memetakan cara mengislamkan Amerika dengan pendidikan, jurnalistik dan politik. Organisasi ini memperediksi bahwa 30 tahun kedepan, masyarakat muslim di Amerika akan mencapai 50 juta orang.  Tidak menutup kemungkinan, akan ada banyak gereja yang beralih fungsi menjadi Masjid untuk beribadah kaum muslim.

Kendeng Melawan

Kendeng Melawan

Akhir-akhir ini gema perlawanan dan aksi solidaritas terhadap masyarakat kendeng yang menolak berdirinya pabrik semen di dua wilayah Rembang dan Pati, menjalar di beberapa kota besar di indonesia. mahasiswa, pelajar, petani, ibuk-ibuk, pemuda sampai orang tua tergugah untuk ikut andil menyuarakan ketidakadilan yang di alami masyarakat diwilayah pegunungan kendeng.

Wilayah kendeng yang dalam 10 tahun terakhir menjadi rebutan para investor untuk menancapkan hegemoni kapital menjadi isu yang santer di bicarakan publik, apalagi dengan aksi yang hampir setiap bulan dilaksanakan, isu ini tidak hanya menjadi isu lokal tapi sudah menjadi isu nasional.

Aksi-aksi yang di jalankan dari demonstrasi, teatrikal, long marc, konser musik perlawanan hingga mendirikan tenda perjuangan di depan istana negara menjadi bukti bahwa penolakan warga kendeng dengan di dirikanya pabrik semen di wilayah mereka, tidak hanya seremonial semata, namun juga semangat kesadaran akan pentingnya kelestarian lingkungan.

Warga kendeng merelakan waktu, tenaga bahkan biaya untuk melaksanakan aksi yang di jalankan, semata-mata agar keberlangsungan ekosistem alam tetap lestari dan bisa di nikmati oleh semua orang. tidak dikuasai dan dinikamti hanya orang-orang yang mempunyai kapital.

Perjalanan masyarakat kendeng dalam menuntut keadilan memberi gambaran terhadap carut marut pembanganuan negri ini. Negara yang seharusnya memberikan kenyamanan dan perlindungan masyarakat malah menjadi momok tersendiri, di setiap pembangunan yang katanmya demi kemajuaan. Pertanyaannya adalah, apakah tidak ada cara lain selain memaksakan pembangunan yang tidak di kendehaki rakyat dan mengeksploitasi alam. Apakah harus pembangunan dan kemajuan setiap bangsa di ukur dari bangunan fisik material. Memeng, kemajuan itu pasti memekan korban dan pasti ada yang di rugikan. tapi kenapa rakyat kecil yang selalu menjadi orang pertama yang di rugikan, dan alam sebagai tempat kita bernaung dan menjalani kehidupan tereksploitasi bukan untuk kemaslahatan tapi demi kepentingan para pemilik modal.

Realitas inilah yang menjadi potret negara kita hari ini. Bumi sebagai karunia Tuhan tergadaikan demi kepentingan seglintir orang. Peraturan di buat untuk melegitimasi kepentingan serta menghegemoni kekuasaan.

Memupuk kesadaran

Aksi yang di lakukan masyarakat di pegunungan kendeng ini adalah usaha untuk kesekian kalinya menyuarakan perlawanan terhadap upaya pengeksploitasi alam. Namun pemerintah sebagai pelayan masyarakat selalu mengumbar janji tanpa adanya solusi yang konkrit  terhadap suara rakyat yang melawan. Pertanyaanya sampai kapan akan melawan. dalam prjuangan usaha terus menerus  menjadi kewajiban.

upaya memupuk kesadaran tidak berhenti pada generasi kita hari ini, generasi kita hari ini lambat laun akan berganti pada generasi berikutnya yang kita tidak akan tahu seperti apa. karna kontek ruang dan waktu yang berbeda. Apakah generasi pewaris kendeng juga akan selalu melawan terhadap upaya perusakan alam. Inilah yang harus kita pikirkan mulai sekarang agar marwah perlawanan selalu bergelora dalam hati anak-anak muda yang sadar [doel R/ntz]