Tampilkan postingan dengan label Pertanian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pertanian. Tampilkan semua postingan
Nelayan Juwana Inginkan Ada Industri Perikanan Dan Kelautan

Nelayan Juwana Inginkan Ada Industri Perikanan Dan Kelautan

PATI – Nelayan di Kabupaten Pati, khususnya di Kecamatan Juwana menginginkan adanya industri perikanan dan kelautan. Dengan demikian diharapkan ada industri yang terintegrasi dalam satu kawasan. Perihal itu diungkapkan Hadi, salah satu nelayan di Juwana.

Dirinya mengatakan, walaupun di Juwana sudah ada dua tempat pelelangan ikan (TPI). Namun hal itu belumlah mencukupi kebutuhan bagi para nelayan.

“Nelayan juga ingin perekonomiannya peningkatan. Dengan adanya industri perikanan dan kelautan yang terintegrasi, maka hasil tangkapan nelayan langsung bisa diproses,” ujarnya Senin (27/2) kemarin.

Lanjutnya, Tempat pelelangan ikan di Juwana sudah ada dua lokasi berbeda. Namun TPI Juwana hanya sekedar sebagai tempat untuk melakukan transaksi jual beli saja.

“Untuk pengolahan hasil tangkapan nelayan belum sepenuhnya bisa diakomodir secara langsung. Padahal Kabupaten Pati adalah daerah penghasil dan pemasok ikan yang lumayan besar,” imbuhnya.

Dirinya dan nelayan lainnya berharap Pemkab Pati bisa mendengar keluhan para nelayan dan segera mengatasinya. “Semoga keluhan para nelayan seperti masalah cantrang, masalah kurang luasnya pelabuhan, dan tempat pengolahan ikan bisa segera diatasi,” harapnya
Prospek Budidaya Jamur di Kawasan Pantura

Prospek Budidaya Jamur di Kawasan Pantura

Kota- Sampai saat ini, banyak masyarakat yang menganggap bahwa budidaya jamur di kawasan pantura adalah mustahil. Pasalnya, selain cuaca yang tidak mendukung juga sulitnya mengatur kemembaban ruangan. sehingga, apabila tidak pintar mengatasi hal itu, dipastikan jamur tidak akan bisa tumbuh dan terancam gagal panen.
Disamping itu, produksi jamur di kawasan pantura ini juga tergolong minim sementara konsumennya relatif banyak. Justru para penggerar jamur rata-rata malah berasal dari kawasan pantura.
Ali Mustofa, Pengusaha Jamur Desa Ngembes, Kecamatan Gembong menjelaskan, kebanyakan masyarakat dikawasan pantura memang suka dengan jamur, terutama jamur tiram. Meskipun dikawasan pantura ada banyak ikan laut yang setiap hari menjadi santapan, tetapi hal itu tidak mengurangi minat masyarakat pantura untu mengkonsumsi jamur.
“Jamur itu konsumennya tidak melihat status geografis, apalagi status sosial. Kalau dikatakan dikawasan pegunungan sukanya makan jamur, lalu yang kawasan pesisir tidak suka jamur, itu salah besar. Justru komsumen saya paling banyak malah dari daerah pesisir,” terangnya.
Kebanyakan para produsen jamur kawasan pantura gulung tikar dikarenakan mereka tidak menguasai teknik membudidaya jamur dengan baik. Sebab, membudidaya jamur tidak bisa secara asal-asalan, akan tetapi membutuhkan teknik yang jitu dan mampu membaca suhu serta kelembaban ruangan.
“Budidaya jamur butuh suhu minimal 23 derajat Celcius dengan kelembaban minimal 80 persen. Sementara di kawasan pantura cenderung memiliki iklim ekstrem, suhu tinggi dan kelembaban kurang. Untuk mengatur itu, proden tidak harus membeli alat, tetapi cukup membasahi ruangan agar kelembaban nya bertambah,” paparnya.
Mahmud Islamil, salah satu pembudidaya jamur di Desa Pasucen, Kecamatan Trangkil juga mengatakan hal yang sama. Dia menjelaskan, .intinya untuk budidaya jamur memang harus ekstra, pintar mensiasati dan pintar membaca kondisi geografis. Apabila gagal ranah itu, kedepannya tidak bisa berkembang.
“Untuk wilayah pantura sendiri prospeknya memang besar, tetapi banyak yang enggan untuk mencobanya. Rata-rata hawatir kalau tidak sampai panen. Tapi sedikit-demi sedikit, saya sudah eksperimen untuk budidaya jamur di kawasan pantura, hasilnya pun lumayan. Hanya saja perlu membutuhkan perhatian ekstra agar kelembaban tetap terjaga,” jelasnya. [Ntz]
Berdayakan Perempuan, Desa Selorejo Bantuk Kelompok Tani Wanita

Berdayakan Perempuan, Desa Selorejo Bantuk Kelompok Tani Wanita

Netizenia.com, Gembong - Tidak seperti umumnya, warga Desa Selorejo membentuk kelompom tani khsus wanita. Hal itu sebagai upaya untuk memberdayakan kreatifitas wanita. Selain itu, dengan adanya kelompok ini mereka bisa mengaktualisasikan diri dan menungkan ide-idenya dalam kelompok tersebut.

Khoridatul Bahiyah, ketua kelompok Tani wanita mengaku sangat senang dengan pembentukan kelompok yang diberi nama Putri Sela. Pasalnya, selain bisa untuk menguangkan wadah kreatifitas, para wanita yang tergabung dalam Putri Sela ini juga dapat berinovasi yang berkaitan dengan olahan dan pertanian.

“Sebenarnya kelompok kami sudah lama berkumpul, hanya saja secara formal belum ada. Tetapi karena ini ada banyak dukungan dari berbagai pihak, alhamdulillah Putri Sela sudah di resmikan hari ini. Tentunya dengan adanya dukungan tersebut, kedepannya Putri Sela bisa lebih baik dan maju,” jelasnya kepada Harian Pati kemarin.

Sementara untuk aktifitasnya, para wanita Putri Sela ini membudidayakan berbagai tanaman yang nantinya bisa dibuat untuk makanan olahan. Bahkan sebelum diresmikan, dia mengaku sudah membuat berbagai makanan olahan dari keong.

“Awalnya kami haya sekedar ngumpul. Karena desa kita dekat dengan waduk Seloromo dan sisana juga banyak sekali keong, maka kami berfikir untuk memandaatkan keong tersebut. Lalui kami berfikir untuk membuat abon keong, krupuk keong dan lain sebagainya,” tambahnya.

Pujo Setijanto, Sekretaris Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Pati sangat apresiatif terhadap gerakan para wanita tersebut. pasalnya, yang dikenal banyak orang saat ini adalah kelompok tani saja, sementara untuk kelompok tani wanita hampir tidak ada.

“Kalau ini memang unik, karena kalau kelompok tani biasanya kan terdiri dari laki-laki dan wanita. Tetapi kalau di Desa Selorejo ini malah sendiri-sendiri, bahkan dari gerakannya juga berbada. Kalau kelompok Tani Rejo yang terdiri dari laki-laki itu fokus pada pertanian, tapi kalau Putri Tani fokusnya pada pengelolaan pangan” paparnya.

Kedepan, kelompok tani Putri Selo ini diharapka mampu menghasilkan inovasi-inovasi baru terkait dengan makanan olahan. Dengan adanya pembentukan kelompok tersebut, tentunya sudah mempunyai visi dan misi, punya tujuan dan punya capaian kedepan.

“Saya rasa mereka akan mampu membuat inovasi-inovasi baru, buktinya belum dibentuk saja sudah produktif, kalau sudah mempunyai wadah yang seperti ini, tentunya akan lebih produktif lagi,” tandasnya. (Cho)
Harga Kencur Naik Dua Kali Lipat

Harga Kencur Naik Dua Kali Lipat

Netizenia.com, Gembong - Harga kencur di Kecamatan Gembong naik berkisar antara Rp. 11.000-12.000 rupiah per kilo gram. Harga tersebut meningkat dua kali lipat dibandingkan pada musim panen sebelumnya yang hanya laku sebesar Rp. 6.000 rupiah saja.

Arif Khoiruddin, salah satu pengepul Kencur di Kecamatan Gembong mengatakan, meningkatnya harga kencur tersebut dikarenakan kebutuhan kencur di pasaran saat ini sedang naik sehingga harganya pun naik dua kali lipat.

“Saat ini kebutuhan masyarakat terhadap kecur memang sanat tinggi. Meskipun hanya untuk bumbu masak saja, tetapi peminatnya sangat banyak. Kalau saya menjual di pasaran ya dengan harga 11 ribu/kg tapi mengirim ke penjual biasanya saya kasih harga 10-10.5 ribu/kg,” ungkapnya.

Dia mengaku, untuk musim panen sebelumnya, harga kencur cenderung menurun derastis. Penyebabnya ada berbagai faktor, salah satunya adalah karena kabutuhan masyarakat akan kencur masih minim. Selain itu, stok kencur di pasaran juga masih banyak.

“Kalau tahun lalu memang menurun derastis. Bahkan banyak juga petani yang mengeluh. Susah payah menanam kencur, tapi hasilnya malah jeblok, kan kasihan. Kalau pengepul tidak terlalu rugi karena hanya sekedar menjualkan saja,” tambahnya.

Ngatemi, warga Desa Selorejo, Kecamatan Gembong yang juga salah satu petani kencur mengaku senang dengan naiknya harga kencur tersebut. pasalnya, jerih payah selama merawat kencur mendapatkan hasil yang maksimal. Bahkan dalam satu petak ladang dapat menghasilkan 1,5 sampai 2 ton kencur.

“Alhamdulillah untuk panen tahun ini harganya naik. Tentunya saya sangat senang kalau naik terus. Tapi untuk kenaikan harga ini terkadang juga tidak bisa diprediksi, sebab sewaktu-waktu bisa turun seperti musim panen sebelumnya,” papar Ngatemi Kepada Harian Pati kemarin.

Dia juga berharap harga kencur bisa stabil sehingga petani tidak rugi terus-menerus. Selain itu, proses penanamannya juga lumayan susah karena apabila curah hujan tinggi, kencur banyak yang busuk.

“Semoga saja harganya bisa stabil, kalau tidak ya bisa naik terus. Karena yang saya tidak hanya habis uang, tetapi juga tenaga. Kalau tanaman tidak di sambangi terus-menerus, tidak di rawat, nantinya malah busuk dan tidak laku dijual,” tandasnya. (Cho)
Menilik Diskriminasi Petani Tebu di Desa Wonokerto,Trangkil, Pati, Jawa
Tengah

Menilik Diskriminasi Petani Tebu di Desa Wonokerto,Trangkil, Pati, Jawa Tengah

netizenia.com
Tahun 2014 lalu, para petani tebu mengalami kerugian berat, karena hasil panennya yang jauh dari harapan. Untuk pembibitan saja mereka harus menyiapkan dana sekitar 5 juta rupiah, belum lagi penggarapan lahan, pemupukan, dan biaya buruh yang ikut menanam bibit tebu. Juga pengecekan pengairan tanah, pengambilan daun (Klitek) atau dalam bahasa Indonesianya  penyiangan daun tebu yang sudah tua mengering supaya tebu lebih cepat tumbuh besar.

 Tebu membutuhkan waktu sekitar tujuh bulan untuk dapat dipanen. Biasanya ditandai dengan munculnya bunga tebu yang berwujud seperti kapas. Kalau di desa Wonokerto biasanya ditandai dengan ritual pasar malam yang di sana dinamakan (nggantingi) ngalab berkah panen yang melipah. Baik tua, muda, besar, kecil dan anak-anak balitapun diajak oleh orang tuanya untuk menikmati pesta itu. Hampir satu bulan penuh acara seperti itu menghiasi kota kecamatan Trangkil, lalu orang-orang Wonokertopun tak mau ketinggalan menyaksikan acara tersebut.

Akhir-akhir bulan acara puncak akan dipentaskan sandiwara ketoprak, layar tancap, dan pagelaran seni budaya pewayangan. Seraya dalam pesta itu, warga desa mulai menyibukkan diri untuk mencari kabar tentang harga jual tebu. Tebu biasanya tidak dijual sendiri oleh para petani ke pabrik tebu yang bernama Kebon Agung, orang sana lebih familier dengan sebutan Pabrik Gula Trangkil. Pabrik itu berdiri tahun 1835 sejak penjajahan Belanda di Indonesia hingga sekarang.

Para petani biasanya menawarkan tebu mereka kepada makelar tebu yang ada di desa mereka, namun petani juga tidak sembarangan mempercayakannya. Makelar tidak semuana memiliki jiwa bisnis saling menguntukan, tetapi malah merugikan sebelah pihak yaitu petani tebu. Semisal, ketika tebu sudah ditebang dimuat dalam bak mobil Truk untuk di bawa ke pabrik tebu, para makelar tidak langsung membayarnya, malah sengaja melabatkan-lambatkan uang hasil panen yang dibeli makelar tersebut kepada petani. namun ada juga makelar yang baik hati, ketika membeli tebu langsung memberikan uagnya. Petani sangat senang dengan makelar yang seperti ini dapat dipercaya, karena uang itu yang nantinya akan digunakan kembai untuk menanam tebu, serta keperluan yang lainnya.

Peran Pemerintah Merosotkan Harga Tebu 
Melihat letak geografis negara Indonesia yan agraris, menyebabkan mayoritas pendudukya adalah bercocok tanam atau bertani. Tanahnya yang subur, seluruh tumbuhanpun dapat tumbuh disini. Sehingga menjadi kebanggaan tersendiri melihat kesuburan tanah Nusantara.

Namun ketika mulai memasuki tahun 2014, harga gula mulai turun tajam hingga para petani tebu kelimpungan. Mereka mengajukan nota protes terhadap pemerintah yang dinilai tidak memihak pro pada petani. Hingga para makelar, para petani tebu, dan pabrik gula yang kecil-kecil juga harus terkena imbasnya hingga gulung tikar.

Memang kalau penuis analisi selama ini, terutama tahun 2014-2016 sekarang harga tebu yang menjadi indukya gula mulai membaik. Padahal sebelumnya para petani harus berhutang menjual apapun untuk menutupi kekurangannnya, makelarpun harus menjual mobil-mobil mewahnya untuk membayar hutangnya.

Mencoba melihat ke belakang, merekam jejak pemerintah. Pada waktu itu, disaat bersamaan pemerintah melakukan kebijakan impor gula yang justru mematikan harga gula di Indonesia. Pemerinta dinilai tidak memihak rakyat, malah menindas rakyat.

Sesuatu yang Keliru
Itu merupakan sesuatu yang keliru. Di negara Vietnam, pemerintah justru menjadi penghubung untuk memajukan para petani mereka. Melalui program pengembangan kemajuan SDM sumber daya manusia. Sehingga tertata rapi rancangan pertanian dan pemerintah menyiapkan diri menjadi (aktor) orang yang melakukan tindakan, seperti memberi pupuk, bibit, dan penyuluhan.

Berbeda dengan di Indonesia para petani dibiarkan sebebas-bebasnya hingga tak tentu arah untuk melakukan hal apapun. Kebingungan untuk memulai bertani. Dengan melihat fenomena yang seperti itu, akankah negara subur makmur ini dapat mencotoh negara Vietnam yang maju pertaniannya serta pro rakyat? Semoga! [Aris/ ntz]