Tampilkan postingan dengan label Ramadhan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ramadhan. Tampilkan semua postingan
Ikatan Mahasiswa Magister Hukum Universitas Islam Indonesia (IMAMAHUII) Adakan Bakti Sosial

Ikatan Mahasiswa Magister Hukum Universitas Islam Indonesia (IMAMAHUII) Adakan Bakti Sosial

Ikatan Mahasiswa Magister Hukum Universitas Islam Indonesia (IMAMAH UII) melaksanakan kegiatan bakti sosial di Yayasan Madania, Banguntapan, Bantul pada hari Senin, 12 Juni 2017.

Ikatan Mahasiswa Magister Hukum Universitas Islam Indonesia (IMAMAH UII) merupakan organisasi resmi kampus yang mewadahi semua kegiatan yang dilaksanakan oleh para mahasiswa Magister Hukum Universitas Islam Indonesia dan sebagai sarana menjalin komunikasi dan kerjasama antar Ikatan Mahasiswa Magister Hukum seluruh Indonesia.

Yayasan Madania merupakan tempat berkumpulnya anak-anak yatim piatu dan kaum dhuafa yang menjadi tempat tujuan pelaksanaan kegiatan bakti sosial kali ini. Program ini dilaksanakan atas dasar kepedulian sosial terhadap sesama yang saling membutuhkan. Dalam kegiatan tersebut juga menjadi sarana menyambung tali silaturahmi antar berbagai angkatan mahasiswa Magister Hukum UII serta masyarakat sekitar.

Tim Divisi Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM IMAMAH) yang menjadi penanggung jawab acara mengemukakan bahwa acara ini merupakan acara yang terprogram dalam kepengurusan IMAMAH UII serta menjadi agenda terpenting dalam bulan Ramadhan tahun ini. Mereka menambahkan kegiatan ini berhasil menghimpun donasi dari rekan-rekan mahasiswa seluruh angkatan serta bantuan dari dinas-dinas sosial yang berupa pakaian bekas layak pakai, sembako serta uang tunai.

Dalam acara ini yang dihadiri sekitar 150 orang terdiri dari para mahasiswa berbagai angkatan, masyarakat serta anak-anak yatim dan dhuafa yang terkumpul dalam satu forum dan dibumbuhi dengan kegiatan buka bersama.

Siraman rohani disajikan secara apik oleh Ustadz Abdul Basit Fuadi, S.H yang mampu menghipnotis para audien serta mematik suasana menjadi sangat khidmat, dengan sajian-sajian sederhananya tentang Islam, Hidup dan Pancasila.

Kegiatan ini berjalan dengan lancar dan sangat meriah, karena dari panitia menyematkan permainan-permainan unik serta doorprize untuk membakar semangat para anak-anak yatim dan dhuafa yang berada di Yayasan Madania agar nantinya mereka sadar akan pentingnya pendidikan, pentingnya agama serta pentingnya menjaga kemakmuran Indonesia.

Selain itu, dorongan dari seluruh elemen terutama dukungan dari pihak Pascasarjana Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia yang dipimpin oleh Drs. Agus Trianta, S.H., M.H., P.hD memberikan dukungan baik dukungan moril maupun materil.

Dengan terlaksananya kegiatan kemarin, diharapkan kepedulian untuk saling menghargai, saling memotivasi serta saling mengedukasi dan membantu selalu terbenam dalam hati sanubari para mahasiswa dan diharapkan dapat menjadi contoh baik untuk khalayak umum.
Persiapan Untuk Kenyamanan Mudik Bersama Anak

Persiapan Untuk Kenyamanan Mudik Bersama Anak

Ketika menjelang lebaran seperti ini, mudik atau pulang ke kampung halaman hampir menjadi rutinitas tahunan bagi mereka yang merantau. Bahkan moment terkadang dijadikan satu-satunya alasan untuk pulang walaupun harus menempuh ratusan atau ribuan kilometer jauhnya.


Tradisi mudik yang hampir- hampir menjadi tradisi wajib setiap tahunnya, hal ini tetap tak menjadi halangan bagi sebagian orang walaupun sedang memiliki ‘Baby’ atau anak kecil. Untuk itu memang sebagai orang tua harus memiliki persiapan yang cukup untuk membuat si kecil tetap nyaman selama perjalanan mudik.  berikut ini kami akan berbagi tips kepada anda yang mau mudik bersama buah hati tercinta, supaya perjalanan tetap nyaman dan aman bersama si kecil.


Menurut dokter spesialis anak dari RS Pondok Indah (RSPI), dr M. Tatang Puspanjono, SpA, M klinik ped, persiapan, seperti pakaian anak, makanan dan minuman, peralatan makan, obat-obatan , popok , peralatan mandi, bedak, adalah beberapa peralatan yang wajib di persiapkan. Selain itu peralatan lain seperti peralatan mandi dan alas tidur juga penting untuk di persiapkan untuk kenyamanan mudik bersama anak.


Selain itu, karena akan akan melakukan perjalanan yang lumayan jauh , bisa jadi anak akan mengalami gangguan kesehatan seperti masuk angin atau mabuk perjalanan. Persiapan dengan minum obat anti mabuk untuk anak dan juga obat-obatan ringan seperti minyak angin dan plastik penampung muntah sangat penting untuk dipersiapkan.


Selain itu untuk menjaga kenyamanan anak selama perjalanan, selalu memastikan kebutuhan anak ketika ingin buang air kecil atau air besar harus diperhatikan.  ketika bagi anak-anak yang masih menggunakan popok memastikan popok mereka selalu bersih dan nyaman juga penting untuk mencegah anak selalu rewel selama perjalanan.


Membawa mainan yang disukai oleh anak juga akan sangat membantu untuk memberi rasa nyaman kepada anak, dan untuk mengurangi kebosanan yang di alami anak selama perjalanan mudik.  itulah kiranya beberapa persiapan yang sekiranya perlu diperhatikan ketika ingin si kecil nyaman selama mudik [MA/Ntz]

Menghidupkan semangat Al Ma’un

Menghidupkan semangat Al Ma’un

Al Qur’an sebagai kitab terakhir yang di turunkan Tuhan kepada umat manusia sebagai petunjuk sekaligus pedoman dalam menjalani hidup, dalam proses pembumianya tidak lepas dari berbagai aspek yang mengiringi dan melatar belakanginya. setiap konteks dan Azbabunnuzul yang mendahului pasti ada konflik yang di potret Al Qur’an untuk dijadikan ibrah (pelajaran) bagi generasi berikutnya.


Sesuai dengan fungsi yang di tuliskan di atas Al Qur’an sebagai petunjuk, di harapkan manusia dengan bimbingan Al Qur’an mampu menciptakan tatanan kehidupan yang  baik,  harmonis serta memberi rahmat bagi seluruh alam.


Inilah sebenarnya makna esensi agama dan Al-Qur’an sebagai  pedoman yang harus selalu di jaga dan di refleksikan bersama , keberadaan Al Qur’an tidak cukup hanya di baca dan hafalkan tapi upaya pemahaman dan  implementasi nyata  dalam  kerja merupakan kewajiban. Bahkan islam sendiri mengecam umatnya yang kelihatan secara dhohir menjalankan perintah agama yang sifatnya transenden, menjalankan syariat tapi tidak melakukan kerja-kerja sosial yang berkaitan dengan makhluk lainya. Karna fungsi di turunkanya Al Qur’an tidak hanya sebagai peraturan untuk mencapai kehidupan akhirat yang baik namun juga kehidupan dunia yang sama-sama seimbang.


Hal ini terekam jelas dari berbagai ayat dalam Al Qur’an salah satunya dalam surat Al ma’un yang mengencam orang yang beribadah kepada Tuhan tapi melupakan tanggung jawab sosial, menurut sebagian besar ulamak surat yang di turunkan berkenaan dengan tokoh kaum musrikin pada saat itu Abu Sofyan, yang setiap minggunya memotong onta kemudian dagingnya di bagikan kepada temannya-temanya, tapi ketika ada seorang anak yatim datang meminta malah mendorong dan menhardiknya. Kontek inilah yang melatarbelakangi surat ini di turunkan.


Surat yang di awali dengan ayat pertama (1) “tahukah kamu orang yang mendustakan agama” ini menurut Prof. Dr Quroish Sihab dalam tafsir al- misbah menjelaskan bahwa Allah akan memperlihatkan dan memberi tahu kepada umat manusia siapa orang-orang yng mendustakan agama, kemudian (2) “ Maka itulah orang yang melantarkan anak-anak yatim” menurut beliau makna “itu” disini menunjukkan” jauh” yang berarti orang yang berbuat dusta kepada tuhan akan jauh dari rahmat Tuhan. di lanjutkan, (3) “yang mendorong anak yatim”  arti mendorong di sini tidak hanya di maknai sebagai sikap kasar kepada anak yatim, namun  membiarkan anak yatim juga masuk dalam kategori mendorong atau bersikap kasar kepada anak yatim. kemudian “yang tidak memberi makan orang-orang miskin" dalam  lanjutan ayat ini kita di perintahkan  memberi makan orang miskin, tepi ketika kita tidak dapat memberi makan orang miskin kita di printahkan untuk menganjurkan orang lain untuk memberi makan orang miskin.


Dalam penjelasan ke tiga ayat ini Prof. Dr Qurois Syihab menekankan bahwa, Al Qur’an dan Islam mengencam orang muslim yang memberi sesuatu kepada orang lain tapi  tidak tepat sasaran, hal ini sangat berkaitan dengan fenomena beragama kita hari ini. Banyak orang yang bersedekah dan memberi orang lain tapi masih berbentuk seremonial keagamaan, belum menyentuh dan mengatasi persoalan. Bersedekah masih di jadikan sebagai prestis bagi orang yang kaya untuk menunjukkan setatus sosialnya yang tinggi, dan orang yang menerima pemberian (sedekah) masih di posisikan dalam setatus sosial yang rendah, fragmatisme keagamaan masih digunakan sebagai logika beragama kita hari ini, yang berakibat timbulnya rasa nrimo yang pasif bagi yang pemenerima sedekah tersebu.


Selain itu Gus Dur dalam Kemiskinan, kaum Muslim, dan Partai politik-Media Indonesia-16 juli 2002 juga pernah pernah memberi penafsiran ke 3 ayat surat Al-Mau’n di atas “Menunjukkan dengan jelas kepada kita adanya orang-orang yang justru memanipulasi kesengsaraan anak yatim dan hak orang miskin demi kepentingan mereka sendiri. Karena memanipulasi seperti itu dianggap sebagai perbuatan menipu agama, dengan sendirinya perbaikan harus dilakukan oleh manusia yang sadar untuk system politik yang membela kepentingan rakyat”



Agama Pendorong Perubahan


Selanjutnya  dalam ayat ke 4 dan 5 urat al Ma’un “Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang sholat (yaitu) orang-orang yang lalai dalam sholatnya” Prof. Dr. Quroisy Syihab menegaskan dalam ayat ini memberi isyarat yang jelas bahwa Allah menegecam orang-orang yang lalai terhadap subtansi sholat yaitu pemujaan dan permohonaan kepada Tuhan. Sholat sebagai ibadah mahdoh semestinya tidak hanya di maknai sebagai (ritus) hubungan manusia dengan Tuhan, namun setelah manusia menjalankan sholat sebagai perintah Tuhan, seharusnya ibadahnya tersebut  mampu membuahkan amal-amal sosial yang bermanfaat bagi orang lain, tidak hanya sebatas sebagai simbol ritunitas keagamaan yang selalu di jalankan, tapi mampu menjadi pendorong perubahan sosial.


Kemudian ke dua ayat 6-7 terakhir “Orang-orang yang berbuat riya” disini dimaknai orang yang bermuka dua dalam Sholatnya. sholat sebagai bentuk pengagungan dan permohonan manusia sebagai makhluk Tuhan kepada pencipta dinodai dengan, bentuknya yang menjalankan sholat tapi esensi yang difikirkan di luar Tuhan, hal inilah yang dimaksud “ria” dalam kontek ayat ini.  dan “mereka yang enggan memberi pertolongan” ayat ini sangatlah berkaitan dengan ayat sebelumnya mengenai sholat, subtansi solat sebagaimana sudah disebutkan di atas, sebagai permohonan kepada Tuhan yang berarti orang yang “butuh” akan peretolongan Tuhan.


Semestinya orang yang berharap atas pertolongan Tuhan tersebut, mempunnyai konsekuensi logis siap membantu dan menolong manusia yang lain sebagai mkhluk ciptaan Tuhan. Karena manusia butuh akan pertolongan Tuhan. Namun manusia dalam hal ini selalu lalai dan bermuka dua, seakan butuh dengan menjalankan sholat sebagai bentuk permohonan tapi enggan menolong makhluk tuhan, inilah yang dimaksudorang yang celaka dalam sholatnya.  


Dari penjelasan tafsir di atas baik secara tersirat maupun tersurat redaksi ayat tersebut menjelaskan agama islam sebagai sistem yang masih kita yakini bersama tidak hanya berkaitan dengan kesolehan  menjalankan ibadah mahdoh semata, namun ibadah goiru mahdoh yang berkaitan dengan hajat orang banyak juga sangat di perhatikan. inilah yang harus kita garis bawahi agar semanga Al Ma’un selalu bergelora dalam jiwa dan raga. [Dul R/Ntz]

Jerat Konsumerisme dalam Merayakan Lebaran

Jerat Konsumerisme dalam Merayakan Lebaran

"Baju baru Alhamdulillah dipakai di hari raya, tak punya pun tak apa-apa masih ada baju yang lama"


Masih ingat dengan lirik lagu di atas atau pernah dengar?, sepenggal lagu diatas mengingatkan kita substansi dari lebaran bukan terletak pada baju barunya melainkan kebaruan jiwa kita, jiwa yang fitri.


Kalimat demikian pula yang sering kita dengar diceramah-ceramah ustadz di masjid-masjid menjelang lebaran. Namun demikian hal tersebut tak lagi populer dalam realitasnya, keinginan memiliki sesuatu yang baru di hari raya seakan sudah menjadi kebutuhan konsumsi.


Benarkah demikian?, ini relaitas yang kita alami sekarang, setiap kali menjelang lebaran ratusan Mall-mall, grosir sampai pedagang eceran menggelar diskon menggila untuk menggugah syahwat untuk berbelanja. Dari perspektif bisnis ini lumrah  sebagai sarana meraup keuntungan ataupun mengembalikan modal, karena dalam optik bisnis tak ada perdagangan yang mau merugi.


Bukan mau terfokus dalam masalah bisnisnya, tapi lebih menarik kita kaji sisi konsumennya, pertanyaannya salahkah perilaku demikian?, bukan bermaksud menjustifikasi perilaku sosial yang marak ini karena kebenaran bersifat subyektif.


Dalam perspektif islam lebaran atau hari raya idul fitri adalah titik balik dimana kemenangan kita atas penahlukkan diri dengan proses berpuasa, sehingga lahirlah jiwa fitri yang siap berproses kembali menuju perbaikan perilaku, perbaikan perilaku yang bersifat kontra produktif kepada prilaku produktif dalam mencapai rahmat tuhan.



Realitas Konsumerisme


Realitasnya, budaya yang bersifat agamis yang produktif tergeser budaya sekuler konsumtif yang bersifat simbolik. Jadi tak heran dari sudut kota sampai pelosok kampungpun akan kita temui fenomena sosial konsumeris dalam perayaan ini. Mengutip teori sosial jean Baudrillard (1998) dari fenomena ini ia mengetengahkan bahwa masyarakat kita masuk masa postmodernis yang ditandai dengan perilaku konsumerisme.


Menurut Jean Baudrillard (Consumer Society), kehidupan masyarakat pada era ini tidak lagi didasarkan pada pertukaran barang materi yang berdaya guna (seperti model marxisme) melainkan pada komoditas sebagai tanda dan simbol yang signifikasinya sewenang-wenang (arbitrer) dan tergantung kesepakatan (conventional) dalam apa yang disebutnya kode (the code).


Herry-Priyono mendefinisikan konsumerisme secara lebih ringkas dan jelas, bahwa konsumerisme adalah konsumsi yang mengada-ngada. Konsumerisme tak hanya menyangkut proses sosiopsikologis, tetapi juga berupa gejala ekonomi-politik. Dalam banyak hal bisa dikatakan bahwa konsumerisme menjadi syarat mutlak bagi kelangsungan bisnis, status, dan gaya hidup.


Pengakuan secara sosial dan perbedaan status sosial era sekarang ditentukan seberapa banyak seseorang itu mengusai simbol-simbol tersebut. tak ayal jika banyak kita temui dalam perayaan lebaran ini orang lebih mengutamakan dan memperbincangkan fhasion, dan life style untuk menunjukkan kelas sosialnya dan melupakan esensi daripada lebaran tersebut. Dalam tingkat yang lebih akut masyarakat sudah tak perduli manalagi kebutuhan yang bersifat primer dan mana yang tersier.


Secara garis besar fenomena ini begitu menggejala dalam setiap peraayaan lebaran, namun lebih kita pahami ini telah benar menjadi budaya dalam sisi kehidupan kita, entah dalam sisi ekonomi, pergaulan sosial, maupun politik. Bukan cerita baru kalau banyak orang gaptek memilki ponsel tercanggih, bahkan dalam konsumsi biaya politik untuk sekedar renovasi gedung, jamuan minum kopi harus menelan biaya ratusan juta. Konsumeris adalah budaya merusak, melahirkan keinginan yang harus terpenuhi secara instans sehingga melahirkan perilaku isntan dalam memenuhinya.


Menatap segala realitas ini, akhirnya semua kembali kepada masyarakat itu sendiri untuk mengerti keadaannya, seberapa penting sebuah kebutuhan akan komoditas, hingga kita tidak terjerembab dalam budaya konsumerisme yang berlarut. wallahu a'lam. [MA/Ntz]

Membuka Pintu Surga Dengan Berzakat

Membuka Pintu Surga Dengan Berzakat

Ibadah zakat merupakan kewajiban bagi setiap muslim yang memiliki harta. Sebagai sebuah kewajiban, jika tidak dilakukan tentu akan mendapatkan dampak yang cukup besar bagi kehidupan pribadi yang bersangkutan. Qura`an surah al-Fushilat ayat 6-7, Allah menyebutkan bahwa orang yang tidak mau berzakat itu sama halnya dengan orang yang telah mempersekutukan Allah (musyrik).


Sebagaimana firman-Nya:




"celakalah orang-orang musyrik, yaitu mereka yang tidak membayarkan zakatnya." 


Sedang di dalam sebuah hadis, Rasulullah Saw menyebutkan bahwa orang yang tidak berzakat itu kelak di hari kiamat hartanya akan berubah seperti ular yang melilit di lehernya.

[button color="" size="" type="" target="" link="http://www.netizenia.com/2016/06/membuka-pintu-surga-dengan-berzakat.html/2"]Selanjutnya.....[/button]


Dalam hadis lain, Rasulullah menyatakan bahwa, "




apabila suatu kaum menahan hartanya sehingga tidak mengeluarkan zakat, maka sama halnya orang itu menahan turunnya hujan (rahmat) dari langit.”


Sedang dalam Qur`an surah an-Nur ayat 56 juga berfirman:


“dirikanlah shalat, sunaikanlah zakat dan taatlah kepada Rasul, supaya kamu mendapat rahmat Allah."


Hal ini mengisyaratkan bahwa, menahan harta untuk tidak berzakat itu tidak ubahnya seperti menurunkan hijab antara seseorang hamba dengan rahmat tuhannya. Padahal, ia berharap agar kelak jika ia mati bisa masuk surga. Maka, bagaimana mungkin ia bisa mendambakan sesuatu yang telah ia tutup sendiri? Bukankah surga itu merupakan rahmat Allah juga?


[button color="" size="" type="" target="" link="http://www.netizenia.com/2016/06/membuka-pintu-surga-dengan-berzakat.html/3"]Selanjutnya.....[/button]



Kebanyakan orang tidak mau menunaikan ibadah zakatnya itu karena hawatir hartanya akan berkurang, sehingga ia beranggapan bahwa kebutuhannya juga, akan semakin tidak tercukupi.


Padahal, sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya telah memberikan penjelasan bahwa berzakat maupun bersedekah itu tidak akan mengurangi harta kita. Bahkan malah sebaliknya, berzakat itu justru akan menambahnya. Dalam kaitannya dengan berzakat dan bersedekah atau berderma ini, ada baiknya jika kita belajar melatih hawa nafsu  kita, agar zakat atau sedekah kita tidaklah menjadi sia-sia.


Kaum muslimin yang selalu mengharapkan kebaikan dan mengharapkan surga Allah- segeralah tunaikan zakat yang wajib bagi kalian agar memperoleh berbagai faedah di atas. Ingatlah bahwa zakat bukanlah wajib ditunaikan hanya ketika akhir bulan Ramadhan saja berupa zakat fitri.


Akan tetapi, zakat itu juga wajib bagi 5 kelompok harta yaitu: emas, perak, keuntungan perdagangan, hewan ternak (yaitu unta, sapi, dan domba), dan hasil bumi (berupa tanaman, dll). Kelima kelompok harta tersebut ditunaikan ketika sudah mencapai nishab, yaitu ukuran tertentu menurut syari’at) dan telah mencapai haul, yaitu masa 1 tahun (kecuali untuk zakat anak hewan ternak dan zakat tanaman).


[button color="" size="" type="" target="" link="http://www.netizenia.com/2016/06/membuka-pintu-surga-dengan-berzakat.html/4"]Selanjutnya....[/button]



Wahai saudaraku, segeralah tunaikan zakat ketika telah memenuhi syarat nishab dan haul-nya. Berlombalah dalam kebaikan dan ingatlah selalu nasib saudaramu yang berada dalam kesusahan. Sesungguhnya dengan engkau mengeluarkan zakat akan meringankan beban mereka yang tidak mampu.


Ingat pula, sebab bangsa ini sering tertimpa berbagai macam bencana dan cobaan adalah disebabkan kita enggan melakukan ketaatan kepada Allah, di antaranya kita enggan untuk menunaikan zakat.